Motivasi dari Ketegaran Pohon

Judul di atas saya dapatkan dari sebuah buku berjudul “Tuhan Kuatkan Imanku” karya Anneke Putri an Amalia Zahra. Dari semua kumpulan tulisan yang ada dalam buku itu, memang saya paling menyukai tulisan yang berjudul “Ketegaran Pohon” ini. Isinya memotivasi saya untuk selalu tegar ketika menghadapi cobaan.

Ketegaran Pohon menceritakan tentang arti ketegaran manusia yang dianalogikan dengan ketegaran sebuah pohon yang tumbuh di California Selatan. Pohon ini sering dikunjungi oleh wisatawan karena bentuknya yang unik. Bukan karena bagus, namun sebaliknya, karena tidak sedap dipandang. Tinggi pohon itu kurang dari dua meter dengan batang pipih dan melintir. Cabang-cabang pohonnya kebanyakan gundul tanpa dedaunan.

Menurut sejarah, beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin dan jatuh ke cela-cela batu granit. Biji itu kemudian tumbuh. Tapi, tiap batangnya muncul langsung hancur diterpa angin pasifik yang kencang. Kadang dia bisa tumbuh agak besar tapi kemudian terjangan ombak, badai, angin memorak-porandakannya. Meski demikian, akarnya juga tumbuh terus ke tanah sampai dalam. Sementara batangnya, lama-kelamaan juga tumbuh terus sampai akhirnya besar meski bentuknya tak karu-karuan. Menariknya, hingga sekarang pohon itu masih hidup.

***

Cerita mengenai pohon itu mengajarkan untuk selalu sabar dan bangkit setiap kali manusia menghadapi berbagai cobaan hidup. Dalam tulisan itu, penulisnya (kalau tak salah, si Amalia Zahra) juga menceritakan bahwa setiap dirinya mengeluh, selain mengingat cerita itu, ia juga selalu ingat nasehat bundanya, ”Di luar sana masih banyak yang lebih menderita daripada kita, Nak. Lalu mengapa kita tidak bersyukur saja?”

Saya menyukai kalimat nasehat itu, terutama pada bagian ” Lalu mengapa kita tidak bersyukur saja?”

Mungkin ada sebagian orang yang tak percaya pada motivasi, tapi bagi saya, cerita motivasi semacam itu bagi sebagian orang, cukup membantu untuk bangkit ketika ”jatuh”. Memang sudah jalan-Nya, man purpose, God dispose, tapi harapan bahwa Tuhan akan memberi pertolongan-Nya adalah yang paling penting.

Seorang teman berkata kepada saya, ”Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusmu kepada Allah, karena Dia yang akan menghapus bagian yang salah dan mengganti dengan rencana-Nya yang lebih indah dalam hidupmu.” Satu lagi, kalimat motivasi menarik. Dan membaginya dengan orang-orang lain adalah hal paling menyenangkan. Karena dengan begitu saya tahu, saya tak sendirian berdoa dan berharap. Di luar sana, orang-orang pun berdoa dan berharap.

Semangat!

1 comment 11 November 2009 Coretan Aprillia

Out of the Box

2009, tahun yang sungguh luar biasa. Setidaknya yang saya perhatikan dari Januari hingga Oktober sekarang ini.

Ketika masih kerja secara formal di tempat yang dulu, beberapa teman sering curhat kepada saya, mengeluhkan kejenuhan mereka pada pekerjaan yang mereka lakukan. Saya memang kerap menjadi recycle bin, ”tempat sampah” mereka. Alhasil, beberapa teman memutuskan resign, dan mungkin menjadi keberuntungan mereka saat tak berselang lama mereka sudah mendapat pekerjaan baru.

Berani out of the box atau keluar dari kandang nyaman. Begitu istilah yang saya gunakan untuk keberanian teman-teman saya berhenti dari pekerjaan lama.

Setelah beberapa kali dipamiti, kemudian tiba giliran saya yang berpamitan. Sebenarnya alasannya simple, saya sudah tidak tertarik dengan jurnalistik, karena alasan-alasan yang sifatnya pribadi yang tidak bisa saya kemukakan. Lagipula, saya menjadi lebih tertarik dengan bidang lain. Belajar tentang Sumber Daya Manusia. Maka, saya putuskan untuk fokus pada apa yang saya sukai dan tidak lagi membuang waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak saya sukai. Bukankah kerja itu ibadah? Jadi harusnya dilakukan dengan ikhlas. Jadi, akhirnya saya memutuskan untuk tidak bertahan.

Ketika pertama kali tercetus ide itu di kepala, saya berkata pada diri sendiri, ”Lu gila ya? Bagaimana biaya kuliahmu, masa harus nodong ortu? Memalukan!” Ufff. Yeah, seusiaku sekarang, seperti kata Nico ”mantan” teman kantorku harusnya aku sudah bisa membiayai kuliah dengan mandiri. Seorang yang saya hormati di kantor, sebut saja namanya pak Ujang juga pernah berkata, ”Kalau kamu berhenti, perusahaan tidak akan terlalu merasakan dampaknya. Sebaliknya perubahan besar yang akan terjadi dalam hidupmu.” Tapi, bagaimana lagi. Antara kepala, tangan, dan hati sudah nggak sinkron, masa harus dipaksa. Nanti, malah tak ikhlas jadinya.

Konsultasi demi konsultasi pun saya mulai untuk menambah kemantapan saya berhenti bekerja. Adalah mas Komang dan mas Ody, dua ”mantan” senior saya di tempat kerja dulu yang sering saya ajak diskusi hampir setiap hari. Kebetulan saya cukup dekat dengan mereka, karena kami sama-sama menyukai rafting. Rafting sering menjadi analogi kami ketika kami berdiskusi tentang apapun.

”Ingat Rafting Pil. Mungkin saat itu kamu akan merasa sakit karena kebentur batu, menelan air kotor, dsb tapi pada akhirnya nanti kamu akan sampai pada pos pemberhentian terakhir. Saat sampai itulah kamu akan melihat kembali ke arah sungai dan bisa berkata, ’Alhamdulillah, ternyata aku tadi bisa melalui semua itu hingga akhirnya bisa sampai di sini’.”

Pertimbangan lain adalah mengecek saldo tabungan. Alhamdulillah, masih ada ”banyak” sisa untuk hidup beberapa bulan ke depan. Hidup means fotokopi, beli buku, transportasi, uang jajan. Saya berusaha tidak meminta pada orang tua untuk itu semua, meski terus terang untuk sementara biaya kuliah saya meminjam dari orang tua. Meski ibu saya bilang, ”Terserah kamu mau dikembalikan atau tidak”, tapi saya tetap menganggap itu pinjaman. Masalah finansial sementara ”saya anggap selesai”.

Bismillah. Akhirnya hari itu tiba, berpamitan dengan teman-teman kantor yang sudah seperti saudara-saudara sendiri. Terharu dengan banyaknya ucapan, ”Wah, ruangan ini bakal sepi tanpamu.” (terlepas dari, entah ini mereka ucapkan karena bersyukur si pembuat keributan pergi, atau beneran merasa kehilangan :-D ).

***

Lalu, bagaimana dengan hidup saya? Seminggu pertama seperti liburan saja rasanya. Seorang sepupu yang tinggal di Bogor kebetulan datang ke Surabaya untuk mengurus masalah-masalah administratif kakaknya di salah satu institut negeri di Surabaya. Karena dia tak tahu jalan, maka sayalah yang menjadi sopirnya sekaligus membantunya untuk mengurus masalah-masalah administratif tersebut.

Sekitar empat hari lamanya saya dan sepupu saya bolak-balik ke sana. Sambil iseng, setiap papan pengumuman lowongan yang saya tahu selalu memasang pengumuman mencari freelancer sebagai tenaga pengajar privat saya baca. Iseng-iseng pun saya menghubungi.

Minggu kedua, ada seseorang menghubungi saya untuk mengajar privat anak kelas 2 SMA. What, SMA? Huah, saya tak seberani itu mengajar anak SMA. pengalaman saya waktu kuliah dulu, anak SD dan SMP lah yang saya tangani.

”Kalau aku Pil, anggap saja mencoba hal-hal baru, sekaligus kita belajar juga,” mbak Yetty ”mantan” teman sekantor saya yang sering saya mintai pertimbangan memberi saran. Ya, sudahlah. Hal pertama yang saya lakukan adalah memperbaiki niat. Kalau jadi guru harus tulus. Jangan mau uangnya saja, tapi nggak becus mentransfer ilmu.

Ternyata Allah Maha Sayang pada saya. Murid saya itu hanya butuh diajari bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Indonesia, dan sedikit Matematika dasar. Alhamdulillah, saya menguasai bidang-bidang itu, meski tak expert. Dua minggu ini, saya sudah menjadi guru privat. Murid saya menyenangkan, meski agak bandel. Yang lebih penting, tiba-tiba, hei, saya menikmati pekerjaan ini. Mentransfer ilmu untuk orang lain. Apalagi teringat hadist yang mengatakan bahwa salah satu amal yang bisa memberatkan timbangan di akherat kelak adalah ilmu yang bermanfaat (untuk orang lain). Juga pertimbangan bahwa pekerjaan semacam itulah yang cocok untuk perempuan (nggak bermaksud bicara gender lho ya).

***

Seminggu lalu saat menunggu kelas, saya dan Putu teman kuliah saya membicarakan kemungkinan untuk menjadi dosen di almamater kami. ”Dosen-dosen kita tuh, masuknya barengan mbak. Jadi kalau pensiun ya pasti barengan juga. Sementara SDM-nya masih terbatas,” kata Putu.
”Jadi kamu mau jadi dosen?” tanyaku.
”Yup. Di keluargaku belum ada yang menjadi guru, aku mau mengawalinya,” jawabnya mantap.

Jawaban Putu membuatku teringat temanku yang lain, Rama. Rama terlahir dari keluarga dokter, namun dia memilih untuk menjadi guru. ”Pokoknya aku pengen jadi dosen Pril. Aku suka mengajar, meski ayahku selalu minta aku jadi dokter. Aku harus tunjukkan bahwa aku bisa sukses jadi dosen,” katanya hampir berulang-ulang kepadaku tiap kali kami ketemu di parkiran lalu tiba-tiba terlibat curhat (mengenai apapun khususnya masalah jodoh hahaha, my great partner Rama  ).

”Terus terang ya Tu, aku pun tiba-tiba tertarik mengajar, sama sepertimu. Tapi, aku inginnya mengajar di tempat lain, bukan di almamater kita. Menurutku, sharing ilmu dan pengalaman di tempat lain itu lebih bagus ketimbang kita tetap bertahan di satu tempat dengan nilai-nilai yang sama. Entahlah…” kata saya kepada Putu.

”Jadi April sudah keluar dari kerjaan ya?” tanya pak Sofyan teman kuliah saya yang mungkin mendengar percakapan saya dengan Putu.
”Iya pak. Mau fokus kuliah dulu biar lulus cepat,” jawab saya.
”Kalau mau jadi dosen, segera cari pekerjaan baru. Kalau bisa ngajar, meski hanya di lembaga bimbingan belajar. Lumayan untuk referensi,” saran pak Sofyan.
”Saya akan ingat itu baik-baik pak, terima kasih.” jawab saya.

***
Seminggu lalu, saya dan Rama iseng-iseng menuju job plecement center di universitas kami. Ternyata kebetulan ada lowongan tentor untuk salah satu lembaga bimbingan belajar. ”So, lets try!” 

Minggu ini interview dan microteaching sudah dijalani. Hasilnya? Belum tahu dan masih sabar menunggu dengan diselingi mengerjakan tugas-tugas kuliah. Saat interview pun saya menyampaikan dengan jujur bahwa saya membutuhkan pekerjaan itu hanya sebagai referensi untuk ketika saya lulus nanti, dan memantapkan diri menjadi tenaga pengajar. Kejujuran itu saya terapkan sebagai bagian visi saya, bahwa kesuksesan berasal dari niat baik dan kejujuran. Tanpa itu semua, nothing.

Kalaupun saya tidak mendapatkannya, saya yakin Tuhan punya rencana lain untuk saya. Sebagaimana teori Cicak dan Nyamuk. Adalah sebuah hal mustahil dalam pandangan manusia ketika cicak yang tak bisa terbang, bisa memangsa nyamuk yang bisa terbang. Cicak memang berikhtiar dengan cara memanjat dinding, supaya bisa memakan nyamuk. Tapi apakah itu cukup? Menurut saya ada hal luar biasa yang bisa menyebabkan cicak mampu mendapatkan itu, yakni ketika Allah dengan kuasa-Nya membuat nyamuk yang datang mendekati cicak.

Teori ini membuat saya semakin yakin, bahwa suatu hari nanti niat baik dan usaha saya akan diganjar oleh-Nya. So, keep semangat, karena rezeki tak akan tertukar. Dan, menurut pengalaman saya ini teori yang terbukti. Cukup banyak tawaran mengajar privat tiba-tiba mengalir ke saya serta satu tawaran menjadi redaktur pelaksana sebuah majalah komunitas. Namun, tanpa bermaksud tidak mensyukuri, saya terpaksa menolak karena khawatir tak bisa membagi waktu. Bagi saya saat ini, sekolah nomor satu.

***
”Pil, adikku dalam proses resign,” kata mbak Ari ”mantan” teman sekantorku juga yang kebetulan adiknya adalah teman KKN saya dulu.

”Why?” saya bertanya dengan terkejut, apalagi posisi teman saya tersebut sudah lumayan di salah satu PMA.

”Dia ingin mewujudkan mimpi jadi desainer,” jawab mbak Arik.

Ooopss, seorang lagi yang akan out of the box! :)

5 comments 23 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Cinta Pamrih (yf)

Aku cukup tahu diri untuk tidak meminta menggantikan tahta di hati mereka. Bahwa aku mungkin cukup terbersit di hati, bukan untuk mengendap di kedalamannya.

Dan adalah kekeliruan jika aku meminta mereka menatap cintaku, meski aku menelusuri waktu untuk memahaminya.

Hingga hatiku mantap memahat tekad, hanya satu cinta yang pamrih. Cintaku ketika aku mencintai Allah.

Add comment 21 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Tentang SDM (2)

Wew, ternyata susah sekali menulis about SDM. Hingga kini, saya belajar bagaimana cara menjahit tiga pilar teori-teori pengembangan SDM. Namun, selalu berhenti pada benang mbulet :P .

Teori-teori tersebut bertumpu pada Ekonomi, Psikologi, dan Sistem. Fyuuuh, pantas saja orang-orang HRD di perusahaan-perusahaan kerja keras untuk mensinergikan ketiga hal tersebut.

Dan sepertinya jadwal menulis saya mundur, coz kehantam tugas-tugas dan kerjaan yang bejibun. Tapi, saya akan tetap mencoba. Wish me lucky! :)

salam,
Aprillia Ekasari

Add comment 21 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Tentang SDM

Manusia adalah makhluk paling sempurna ciptaan Allah. Setiap manusia (baca: individu) diciptakan dengan sangat unik. tak ada satu individu pun yang sama, meski mereka kembar sekalipun.

Dari sejak SMA saya tertari belajar tentang manusia. Harusnya saya belajar tentang Ilmu Psikologi yah? namun pas zaman SMA, pikiran saya tentang Psikologi adalah mengenai konseling dan konseling. Wakakakak. Dasar dudul yah! :D

Alhamdulillah, saat ini saya belajar mengenai Ilmu Sumber daya Manusia (SDM), dengan spesialisasi pengembangannya pada bidang Bisnis dan Organisasi. insyaAllah, apa yang saya pelajari akan saya share di blog, supaya kita semua bisa sama-sama belajar betapa pentingnya manusia, betapa hebatnya manusia (alhamdulillah aku juga manusia :D ), juga bagaimana harusnya kita memperlakukan sesama manusia. Yeah, mungkin ada beberapa yang melenceng dari perbincangan mengenai SDM or Human Resource (HR) itu sendiri. Namun, sebagai amatiran di bidang ini, saya akan berusaha mengikat ilmu saya dengan menuliskannya.

Semoga bermanfaat, tulisan-tulisan saya itu kelak yah! (I wish). Insyaallah mulai besok saya akan mencobanya. Tulisan-tulisan itu akan saya posting di dua blog saya http://sukmakutersenyum.multiply.com dan http://coretanaprillia.wordpress.com .

Okeh deh, have a nice day. saya mau ngerjain tugas dulu sekalian belajar. Hehehe ;-) .

salam,
Aprillia Ekasari yang sedang belajar jadi orang yang lebih baik :)

2 comments 13 Oktober 2009 Coretan Aprillia

– nggak ada judul –

Rejeki itu tak akan tertukar. Saya meyakini itu, ketika seorang teman menawari saya “jabatan” di tempatnya bekerja sore ini. Pekerjaannya menyenangkan, sesuai hobby. Tapi, dengan legowo saya menolaknya. Bukan karena saya menolak rejeki, bukan. Padahal sejujurnya saya memang butuh pemasukan. Sementara keuangan di rekening sudah semakin menipis untuk biaya fotokopi diktat-diktat kuliah, membeli buku-buku, juga untuk operasional pulang pergi kampus dan tempat kursus. Fyuuh, kalau lagi berada di depan ATM saya meringis sendiri sambil berkata, “Weleh, gue udah gendeng!” Wakakakaka :( (tertawa kecut mode on).

Yah, sekali lagi. Rejeki tak akan tertukar. Saya sudah senang dengan penghasilan di bawah 500 ribu saja untuk sementara ini. Alhamdulillah, dapatnya “pekerjaan” ini juga lumayan cepat. Tak sampai seminggu setelah saya hengkang dari perusahaan lama tempat saya bekerja dulu. Kalau kata kakak saya, itu berkat dari Tuhan. Banyak-banyaklah bersyukur. Eh, ndilalah pas ditawari kerjaan yang gajinya mungkin lumayan, aku kok nolak. Hahaha, kok kayak nyesel gini yah? Ah nggak kok.

Pekerjaanku yang kujalani sekarang hanya 3 jam per minggu namun menyenangkan. Aku mengajar privat anak laki-laki kelas dua SMA. Awalnya sih takut, coz aku tak secanggih mas Uel dan mbak Ye. Tapi, bismillah, aku ambil hikmahnya, aku belajar hal-hal baru.

Waktu yang kuantitasnya tak banyak ini kumanfaatkan sebaik mungkin dengan jadi anak gaul yang hobby nongkrong di perpustakaan kampus. Wakakakaka. Fyuuuh, tugas-tugas kuliah memang berat dan aku bersyukur punya penghasilan. Lumayan untuk fotokopi dkk-nya :D . Alhamdulillah.

Tak mengapa. Rejeki tak tertukar. Itu juga yang sering kukatakan kepada Rama dan Putu, teman-teman kuliahku yang “bernafsu” sekali jadi dosen di almamater kami. “Sabar Rama, sabar Putu, setahun lagi!” (pas berkata begitu ke Rama dan Putu, aku juga menenangkan diriku sendiri, “Sabar sayang, setahun lagi!” :) ).

Ah, rejeki tak akan tertukar. Terima kasih Allah :) .

2 comments 12 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Misteri Jodoh

Kisah ini nyata, saya dapat dari blog sahabat teman saya, Yuni Nisa atau yuniezalabella . Karena suka, dan hikmah di dalamnya luar biasa, saya copas di sini. Gaya penceritaannya tak diubah. Semoga bermanfaat.

***
Ketika sedang tenang-tenang di depan komputerku, bu Ita yang sedari tadi sibuk dengan tugas kuliahnya tiba-tiba berkata : “Bu Yun, tahu gak kisahnya pak Ardian ? Aku tuh kagum banget ma partner baru ku itu lho. Padahal dulu, aku pikir dia bakalan akan tertutup. Lagian orangnya terlihat pendiem banget. Eh malah dia duluan yang nanya-nanya dan mulai ngobrol. Dan setelah aku mulai pakai jilbab, semingguan ini, eh dia cerita tentang istrinya.”

Bu Ita terlihat diam sejenak, lalu bertanya, “ Bu Yun tahu berapa umur istri pak Ardian ?”

Entah kenapa, aku menjawab , “ 30 tahun?”

Bu Ita terdiam, “ Bu Yun, ada pensil?”

Aku memberikan pulpenku, dan bu Ita mencari selembar kertas bekas lalu menuliskan sepasang angka.

“ Bu Yun, istri pak Ardian itu umurnya 37 tahun”, dan aku terkesiap tiba-tiba. Karena pak Ardian sendiri masih berumur 24 tahun. “ Bu Yun, tahu berapa gaji istrinya saat itu? Rp. 2,5 juta sementara pak Ardian saat itu gajinya hanya Rp1 juta. Dan saat akad nikah, bu Yun tahu berapa maharnya ? hanya Rp 13.000,- dan pak Ardian dulu beberapa kali di tolak oleh istrinya, karena istrinya dulu tidak pede dengan umurnya.”

“Kok bisa Bu Ita ?”

“ Iya, pak Ardian sendiri yang cerita. Sepertinya dia sering jadi konsultan pernikahan buat teman-temannya, tetapi karena dia sendiri belum menikah, teman-temannya mendorongnya untuk menikah juga. Hingga suatu saat ya bu Yun, ada empat biodata akhwat. Sebenarnya biodata-biodata itu buat temannya, tapi ketika dia lihat ada satu biodata seorang akhwat yang sudah berusia 37 tahun. Sementara biodata-biodata yang lain, adalah akhwat-akhwat yang lebih muda dan lebih cantik.

Tetapi biodata akhwat berusia 37 tahun itu, sepertinya sudah lama berada di situ. Selama ini, tidak ada yang memilihnya. Hanya karena melihat foto dan umurnya, akhwat tersebut di tolak oleh banyak ikhwan. Nah pak Ardian, merasa ingin mencoba. Akhirnya bersama temannya dia melihat akhwat tersebut.

Akhirnya dia minta izin untuk berkunjung kerumah Akhwat tersebut. Pada kunjungan pertama, dia mengaku berkunjung sebagai teman. Kemudian pada kunjungan kedua, dia langsung berkata kepada orang tua sang akhwat : “ saya ingin menikahi anak bapak”. Wah langsung heboh keluarga sang akhwat. Mertuanya sempat berkata : “ Punya apa kamu ingin menikahi anak saya?”

Langsung saja pak Ardian, mengambil dompet dan mengeluarkan isinya, hanya ada uang sebesar Rp. 13.000,- . “ Apa dengan uang sebesar itu kamu ingin menikahi anak saya?” sahut sang calon mertua galak. “ iya pak”, Pak Ardi langsung nyimpen uang RP.13.000, itu Bu Yun.

“ Lalu dengan apa kamu ingin kasih makan anak saya ? Tinggal dimana anak saya nanti ?” Tanya sang calon mertua kasar.

“ Pak, saya lelaki. Saya nantinya adalah pemimpin rumah tangga. Saya akan mencari nafkah dan menafkahi istri saya dengan sebaik-baiknya”, jawab pak Ardi tenang.

“Lalu kenapa kamu ingin menikahi anak saya?”

“ Pak, anak bapak sudah berumur 37 tahun. Saya ingin menjadi jodohnya sekarang. Kalau saya tidak menikahinya sekarang, bisa jadi tahun berikutnya anak bapak belum tentu bisa menikah.”

***

“ Ya Allah bu Ita, orang semuda itu tetapi bisa sedewasa itu dalam berfikir dan bertindak ya ? Aku bener- bener penasaran dengan keluarganya, pasti dia di besarkan dengan sempurna atau dia mencari ilmu , sehingga bisa sematang itu”.

“ Wah bu Yun, karena itu juga orang tua sang akhwat langsung meminta bertemu dengan orang tua pak Ardi. Mungkin mereka ingin tahu, apakah pak Ardi main-main.”

Akhirnya pak Ardi berbicara dengan kedua orang tuanya. Dan Subhanallah, sewaktu dia bilang bahwa sang calon istri ini umurnya 37 tahun, kedua orang tuanya berkata : “ baiklah”. Dan adik pak Ardi yang masih duduk di bangku SMU, yang selama ini bertugas untuk menyeleksi calon-calon istri buat sang abang, juga mengemukakan persetujuannya: “ Boleh, boleh”. Padahal adiknya selama ini cukup sulit di mintai persetujuannya. Dan sekarang mereka menjadi sangat akrab.

“ Ya Allah pak Ardi, dimudahkan sekali. Seluruh keluarga merestui.” Cetus bu Ita saat itu.

***

“ Tapi Bu Yun, beberapa hari sebelum menikah calon istrinya itu kabur. Tidak bisa di telpon dan tidak mau di temui. Istrinya saat itu sangat tidak pede: kenapa ada lelaki yang jauh lebih muda yang mau menikah dengannya. Dia akhirnya berkata : “ Nanti kalau aku sudah tua dan berkeriput, kamu pasti akan meninggalkan aku dan mencari yang lebih cantik !”

“Kalau aku ingin mencari yang lebih cantik dan lebih muda, aku gak perlu menunggu nanti. Aku bisa melakukannya sekarang. Kalau kamu masih ragu-ragu begini saja, di hari pernikahan kita, aku akan datang ke mesjid lebih pagi dari orang tuamu.” Jawab pak Ardi.
Dan akhirnya Pak Ardi beneran datang lebih pagi, bu Yun.

Sebenarnya aku langsung nyeletuk ; “ ya pak Ardi kan sekarang masih muda, bisa berkata begitu. Nanti mungkin kalau sudah berumur 30 tahun, fikirannya mungkin akan berbeda lagi.”

“ Wallahu ‘alam bu Ita. Tapi kenapa sih perempuan gak pede, selalu berfikir lelaki akan mencari perempuan lain. Padahal kalau perempuan itu pede, lelaki juga gak akan berfikir seperti itu. Dan lagi jika hal itu datang, aku tinggal mengingat niat aku menikahinya, perjuangan aku mendapatkannya. Ketika aku harus menghadapi calon mertua yang keras dan penolakan berkali-kali dari calon istriku”, jawab pak Ardi.

***“
Dan sekarang bu Yun, setiap selesai ngajar dan sebelum dia pergi kekampus, dia selalu menjemput istrinya terlebih dahulu. Dan kalau di hadapan teman-temannya, sang istri sering merasa malu. Karena teman-temannya sering nyeletuk; iiih , suaminya masih anak-anak ya.
Dan pak Ardi akan menghampiri istrinya, menggandeng tangan atau memeluk pinggangnya dan mengenalkan diri dengan tenang : “ kenalkan saya suaminya.”

Selain itu ya Bu Yun, pak Ardi tuh bisa masak lho. Setiap hari dia bawa bekal sendiri. Aku nanya ; “ wah di masakin sama istri ya ?” dan di jawab: “ bukan, ini aku yang masak, justru aku yang menyiapkan bekal untuk istriku”.

Ya Allah bu Yun, dulu tuh waktu awal-awal pak Ardi masuk, dia tuh uda sering membicarakan istrinya, membanggakannya. Dan sekarang setelah istrinya hamil, dia makin saying. Makanya sewaktu kita di sekolah ada acara kemping, dia gak bisa datang. Karena istrinya yang sedang hamil 7 bulan sendirian di kontrakan. Dia ingin menemani dan menjaga istrinya bu Yun.

Kemarin pun dia sempat bertanya ma aku, dimana dia bisa beli motor ‘second’ . “Lho, kan uda ada motor”. Dan pak Ardi menjawab: “ yang itu, mau aku hadiahkan buat istriku.”

Tapi dia sempat cerita, bahwa dia marah dengan temannya, karena ada yang berkomentar : “ Kok mau sih sama perawan tua ?”. Pak Ardi menjawab : “ Siapa bilang dia perawan tua ? Siapa bilang yang lebih muda, akan lebih baik dari istriku.”

***
Aku dan bu Ita saling berpandangan. Jujur setelah beberapa minggu ini mengenal pak Ardian dan bagaimana dia begitu sabar menghadapi anak-anak, lalu mendengar cerita tentang pernikahan pak Ardian dan bagaimana dia memperlakukan istrinya,,, kami sungguh percaya itu benar. Dan kamipun yakin, cerita itu bukanlah bentuk kesombongannya.

Sementara bu Ita dan bu Lina berucap: “ Ternyata masih ada ya lelaki seperti itu.” Dan kalimat yang sama itu, mungkin akan keluar juga dari mulut-mulut perempuan yang pernah terluka hatinya oleh lelaki.

Aku justru berucap : “ Ya Allah bu Ita, apa yang telah di lakukan istrinya sampai bisa mendapatkan jodoh yang seperti ini ? Bagaimana cara perempuan itu menjaga dirinya ? Kebaikan seperti apa yang pernah dilakukannya ? Karena Allah kan maha adil, wanita baik untuk lelaki baik, dan lelaki baik untuk perempuan baik.” ( aku ingin menjadi perempuan yang seperti itu, amin).

***
Pak Ardi nanya: ” bu Ita kapan mau nikah ?”

“Ya umur aku kan uda 27 pak, uda gak muda lagi, aku pengen banget nikah. Aku ingin serius.”

“Eh bu Ita masih muda , coba lihat istri aku ( Pak Ardi menyemangati ). Kalau bu Ita mau, coba deh kasih biodatanya ke aku.”

“Wah pak, aku gak pernah seperti itu, pake-pake biodata. Aku takut pak. Itukan dua orang asing. Kalau sekarang pak Ardi memang punya sifat yang baik, tapi bagaimana lelaki lain ?”

“ Bu Ita harus yakin, kalau orang baik itu ada. Yakin bu.”

***“
Akhirnya aku di jelasin deh tahapan nya. Katanya, dia bisa bawa temannya, nanti aku ngeliat tapi temannya tidak tahu. Hehehe tapi aku tetep takut bu Yun. Uda deh, bu Yuni aja ya , ntar aku bilangin ke pak Ardian ( hehehe, selalu gini nih ujung2nya).”

“ Tapi bu Ita, lihat deh dari ini semua. Betapa kita tuh harus bisa mengenali lelaki yang baik. Mengenal kualitas akhlak, mengenal kematangan dan kedewasaan bahkan dari lelaki yang lebih muda. Untuk mengenali itu, kita harus melampaui semua penampilan fisik. Lihat aja pak Ardi, sebelum kita tahu ceritanya, kesan kita terhadap dia; dia tenang, sabar, dan berpenampilan biasa. Kita tidak menganggapnya terlalu istimewa saat itu.”

Semoga yang belum menikah bisa bertemu sosok lelaki sejati seperti kisah di atas (amiin) :)

1 comment 11 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Miris… (about Putri Indonesia)

Liputan6.com, Banda Aceh: Sukacita Qory Sandrioriva menjadi Puteri Indonesia 2009 direspons dingin ulama Aceh. Mereka menilai kemenangan Qory tak mencerminkan putri Bumi Serambi Mekah yang menerapkan syariat Islam. “Qory bukan cerminan putri Aceh. Untuk itu, ia tidak berhak mengatasnamakan rakyat Aceh. Ini sangat kita sesalkan,” kata Sekretaris Ulama Dayah Aceh (HUDA), Faisal Aly di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (10/10), seperti dikutip ANTARA.

Faisal menambahkan, Qory tak mewakili Aceh karena belum pernah ada pemilihan Puteri Indonesia di sana. Sikap ini bukan berarti ulama apriori dengan putri Aceh. Hanya saja, menurut Faisal, sebaiknya tak menghilangkan jati diri sebagai putra daerah yang memiliki budaya Islam kuat.

Karena itu, Faisal mengimbau kepada para remaja putri agar selalu menjaga budaya Aceh yang kental dengan Islam. “Jangan mudah terpengaruh dengan budaya Barat yang sangat bertentangan dengan Islam. Saya rasa masih banyak cara lain untuk menjadi terkenal dengan tidak mengorbankan budaya daerah dan agama,” ucap Faisal.

Pada malam puncak Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) 2009 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu malam, Qory mengalahkan dua finalis lainnya. Yakni, Zukhriatul Hafizah dari Sumatra Barat dan Isti Ayu Pratiwi dari Maluku Utara

[baca: Qori Sandioriva, Puteri Indonesia 2009].(AIS/ANS)

1 comment 11 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Memaafkan

“Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan. (HR. Ath-Thabrani).”

Saya dapati deretan kata di atas dari seorang teman via YM. Setiap hari “si mbak” ini memang rajin mengirimi saya taujih-taujih singkat.

***
Memberi maaf atau memaafkan, sebenarnya jauh lebih berat dibandingkan dengan meminta maaf. Butuh kelapangan dada dan kebesaran jiwa untuk melakukannya.

***
“Maaf”, empat kata yang susah sekali diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Terdiri dari empat huruf saja, namun luar biasa ampuh mendamaikan pihak-pihak yang berseteru, karena alasan apapun. Tapi sayang, manusia berumur dewasa kadang tak paham betul apa maknanya. Termasuk saya :( , masih dudul untuk memanfaatkan kata ini. Padahal Tuhan dalam kitab-Nya menjanjikan ampunan bagi mereka yang mampu mengaplikasikan kata ini.

“Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An Nisa: 149)

Hufff, Ya Allah.

***
Dari sebuah buku yang saya baca, kalau tak salah judulnya: “Maafkanlah! Maka Kamu akan Sehat” kata maaf, dalam Al Quran sering ditulis dengan istilah al-afuw (maaf) dan/ atau al-shafh (lapang dada). Dua istilah tersebut, semacam tingkatan dalam “maaf-memaafkan”.

Apa bedanya?

Lebih mudah jika saya menganalogikannya dengan tulisan di atas kertas. Al-afuw adalah istilah yang dipakai saat kita menghapus tulisan di atas kertas dengan penghapus atau tip-ex. Tulisan itu memang tak lagi tampak, namun di kertas masih ada bekas-bekasnya. Mungkin saya atau anda sudah mengatakan “Iya, aku maafkan” kepada seseorang namun masih saja tak bisa melupakan kesalahannya. Orang Barat biasa menyebutnya “forgive but not forget”.

Sedangkan al-shafh adalah merobek kertas yang sudah penuh tulisan tersebut dan menggantinya dengan lembaran kertas baru. Artinya, jika kata “maaf” sudah diberikan maka lupakanlah, ikhlaskan kesalahannya.

***
Saya jadi ingat, lagu yang sering saya nyanyikan saat saya SMA. Dulu, meski sudah terhitung ABG, saya menggemari lagu-lagu Sherina. Saya lupa judulnya apa, namun sedikit banyak saya masih ingat liriknya:

“Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan. Tapi hanya yang pemberani, yang mau mengakui. Setiap manusia di dunia, pasti pernah sakit hati. Hanya yang berjiwa satria, yang mau memaafkan.”

Wah, tiba-tiba saya merindukan lagu itu .Memiliki jiwa satria adalah hal yang paling saya inginkan (amiin). Yok, belajar sama-sama yoook! ;-)

***
“Memaafkan tidaklah menambah apa-apa kepada seorang hamba, kecuali kemuliaan. Oleh sebab itu perbanyaklah kalian memaafkan, niscaya Allah akan memuliakan kalian.” (HR Ibnu Abiddunya)

3 comments 11 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Blog

FYI, saya kembali kepada “pacar pertama” saya di sini. Terima kasih ;-) .

salam,
Aprillia Ekasari

Add comment 11 Oktober 2009 Coretan Aprillia

Previous Posts

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts